Senin, 12 Februari 2018

MITOS DI CANDI BOROBUDUR






Nama : Sandi Maudita Damar P

Nim : B.111.17.0171


Mitos Kunto Bimo di Candi Borobudur, Apa Itu?




Jawa Tengah, Indonesia – Salah satu daya tarik dari Candi Borobudur bagi para wisatawan adalah keberadaan mitos Kunto Bimo. Meskipun banyak yang menyangkal kebenaran mitos ini, tapi tidak sedikit yang mempercayainya dengan melakukannya dengan alasan “coba-coba” atau “hanya iseng”.








Susunan stupa di tingkat arupadhatu Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia.
Susunan stupa di tingkat arupadhatu Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia. Foto: wikimedia.org

Apa kata mitos?
Mitos Kunto Bimo yang dipercaya masyarakat sekitar Borobudur mengatakan bahwa siapa saja yang merogoh ke dalam sebuah stupa berongga (berterawang) dan dapat menyentuh bagian tertentu dari tubuh arca Buddha yang ada di dalamnya maka ia akan mendapatkan keberuntungan atau terkabul keinginannya.
Ada yang mengatakan bagi pria ia harus memegang jari manis namun ada yang mengatakan jari kelingking dari arca Buddha yang berada dalam posisi tangan (mudra) Dharmachakra (Pali: Dhammacakka – roda Dharma). Sedangkan bagi wanita ia harus memegang telapak kakinya atau tumit, namun ada yang mengatakan ibu jari kaki.
Karena mitos itu, arca Buddha tersebut dikenal dengan nama arca Kunto Bimo. Dan stupa yang menutupnya tersebut merupakan stupa berongga belah ketupat di lantai atau teras bundar pertama dari tingkat arupadhatu atau tingkat ke-7 dari 10 tingkatan candi, dan terletak di sebelah timur candi atau stupa pertama yang berada di sebelah kanan dari tangga pintu timur.
Awal mitos Kunto Bimo








Mitos Kunto Bimo melibatkan arca Buddha di dalam stupa berongga belah ketupat di Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia.
Mitos Kunto Bimo melibatkan arca Buddha di dalam stupa berongga belah ketupat di Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia. Foto: wikimedia.org

Meskipun terkenal, sangat sedikit yang mengetahui asal usul dan arti dari Kunto Bimo. Menurut mendiang Drs. R. Soekmono, salah satu arkeolog Indonesia yang pernah memimpin proyek pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1971-1983, mitos yang tidak ada kaitannya dan tidak diajarkan dalam Agama Buddha tersebut merupakan akal-akalan oknum petugas candi pada tahun 1950-an.
Mitos Kunto Bimo diawali dengan keinginan oknum petugas candi yang ingin meningkatkan pendapatan mereka dengan membuat daya tarik di Candi Borobudur untuk para pengunjung. Mereka menaburkan bunga dan uang pada satu arca dalam stupa sehingga memberi kesan mistis. Dan itu berhasil. Pengunjung mulai latah dan oknum petugas pun mendapatkan penghasilan yang lumayan.
Perilaku pengunjung Candi Borobudur yang mengistimewakan salah satu arca Buddha di arupadathu juga pernah disinggung oleh August Johan Bernet Kempers (1906-1992), seorang arkeolog asal Belanda, dalam bukunya Ageless Borobudur.
Perilaku memberi uang kepada arca tersebut kemudian diikuti dengan tindakan merogoh dan menyentuh bagian dari arca Buddha untuk mendapatkan hoki. Tidak diketahui secara pasti mengapa yang harus disentuh adalah jari manis dan tumit. Diduga ini juga merupakan sebuah permainan akal-akalan agar para pengunjung tidak dengan mudah begitu saja melakukannya dan tidak mudah begitu saja mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yang pasti, jika diperhatikan kedua bagian yang harus disentuh tersebut berada hampir di tengah-tengah stupa, jarak terjauh dari luar stupa.
Asal kata Kunto Bimo
Berdasarkan cerita masyarakat setempat, istilah Kunto Bimo berasal dari kata “Kunto” dan “Bimo”. Kata “Kunto” dianggap berasal dari kata dalam bahasa Jawa yaitu “ngento-ento” (ngenta-enta) yang berarti “mengira-kira”, atau “ngenta-ento” yang berarti “permintaan-mendapatkan”. Dan kata “Bimo” dari kata “Bima” yaitu salah satu tokoh dari Pandawa Lima dalam kisah Mahabharata yang juga dikenal dengan nama Werkudoro (Skt: Vrikodara) yang memiliki sifat pantang menyerah. Dengan demikian “Kunto Bimo” diduga berarti permintaan pantang menyerah dan mengira-kira (berharap) mendapatkan hasilnya.
Secara harfiah, Kunto Bimo sendiri berasal dari kata “Kunta Bima” (Skt: Kunta Bhima), “kunta” bisa berarti “batang” atau “lembing” atau juga bisa berarti gairah atau keinginan, dan “bima” adalah Bhima dari tokoh Pandawa yang berarti “mengerikan” atau “luar biasa” atau “dahsyat”.








Mitos Kunto Bimo: siapa yang dapat menyentuh jari manis atau tumit arca Buddha akan mendapatkan keberuntungan.
Mitos Kunto Bimo: siapa yang dapat menyentuh jari manis atau tumit arca Buddha akan mendapatkan keberuntungan.

Mengandung Bahaya
Di balik kepopulerannya, mitos Kunto Bimo juga mengandung unsur bahaya, baik untuk pengunjung maupun terlebih untuk kelestarian Candi Borobudur.
Pada Juni tahun 2010, karena terpengaruh mitos Kunto Bimo, seorang anak balita terjepit kepalanya di salah satu stupa karena ingin meroggoh arca Buddha. Selama kurang lebih setengah jam sejumlah Petugas Balai Konservasi Peninggalan Borobudur secara perlahan-lahan mengeluarkan kepala anak itu dari stupa. Meskipun peristiwa ini tidak terjadi di arca Kunto Bimo, namun sempat mengundang perhatian.
Mitos Kunto Bimo yang mendorong para pengunjung untuk merogoh arca Buddha di dalam stupa juga dapat merusak stupa itu sendiri. Dorongan badan yang kuat dari usaha para pengunjung untuk merogoh akan menekan batuan penyusun stupa yang akhirnya dapat merusaknya. Belum lagi sentuhan dari telapak tangan dan jari para pengunjung yang kotor dan mengandung mineral-mineral yang dapat mempercepat pelapukan arca Buddha yang ada di dalamnya.








Stop merogoh stupa Candi Borobudur.
Stop merogoh stupa Candi Borobudur.

Apa yang Buddha ajarkan
Seperti yang telah disampaikan, mitos Kunto Bimo sama sekali tidak ada kaitan dengan ajaran Agama Buddha. Alih-alih mengajarkan hanya menyentuh sesuatu dan berharap maka seseorang akan mendapatkan keinginannya seperti kekayaan, kesehatan, umur panjang, dan kehidupan mulia, Agama Buddha justru mengajarkan agar seseorang berupaya menempuh jalan atau cara yang mengarah pada keinginannya itu yaitu dengan tekun melakukan kebajikan.
“Bagi ia yang menginginkan kesehatan dan umur yang panjang, kecantikan, surga, dan kelahiran mulia, [berbagai] kegembiraan luhur yang berturut-turut, para bijaksana memuji ketekunan dalam melakukan kebajikan,” demikian sabda Sri Buddha dalam Appamāda Sutta (Saṃyutta Nikāya 3.17).
Jika seseorang ingin berumur panjang, maka hindarilah pembunuhan, jika seseorang ingin minim dari penyakit maka hindarilah kebiasaan menyakiti makhluk hidup. Jika seseorang ingin memiliki kekayaan maka berikanlah kebutuhan pokok kepada para petapa atau mereka yang berpenghidupan suci. Dan seterusnya seperti yang tercantum dalam Cūḷakammavibhanga Sutta (Majjhima Nikāya 135).
Terlepas dari arti sebenarnya dan melihat tidak bermanfaatnya mitos Kunto Bimo bahkan cenderung dapat merusak candi, sudah saatnya mitos ini ditinggalkan. Dimulai dari diri umat Buddha khususnya umat Buddha Indonesia sebagai “pewaris” Candi Borobudur untuk tidak tergoda dengan latah merogoh arca Kunto Bimo, meskipun hanya untuk “iseng-iseng” semata. Dan sangat disayangkan jika pengelola candi termasuk pemandu wisata tidak melarang keras tindakan merogoh stupa ini.[Bhagavant, 9/9/15, Sum]

Asal Usul Candi Borobudur

Asal-Usul Penemuan Candi Borobudur Setelah Candi Borobudur selesai dibangun, beberapa prasasti menyebut jika Candi ini kemudian digunakan oleh orang-orang agama Budha masa itu sebagai tempat ibadah dan ziarah. Penggunaan candi ini hanya berlangsung dalam waktu singkat, yakni sekitar 150 tahun. Singkatnya penggunaan candi ini memang tak sesuai dengan lama proses pembangunannya. Hal ini diketahui dapat terjadi karena adanya migrasi besar-besaran orang-orang Budha di sekitar Candi karena keruntuhan Wangsa Syailendra. Mereka terdesak oleh keberadaan orang-orang hindu yang secara kuantitas memang lebih banyak. Dengan semakin sedikitnya para penganut Budha di sekitar wilayah tersebut (Magelang saat ini), Candi Borobudur kemudian tidak digunakan lagi. Ia tidak terawat dan sebagian dirusak oleh orang-orang yang belum berpikir pentingnya peninggalan sejarah itu di masa depan. Karena tak lagi terurus, Borobudur pun kemudian semakin rusak oleh alam. Waktu terbengkalainya yang cukup lama membuat Candi megah ini ditumbuhi pepohonan besar, tertimbun oleh abu letusan gunung yang ada di sekitarnya, dan tertutup hilang terpendam di dalam tanah. Penemuan Kembali Candi Borobudur Borobudur tertimbun tanah.






 Siapapun orang-orang di sana tak pernah tahu jika dibawah kaki mereka ada sebuah Candi besar peninggalan kebudayaan nenek moyang terdahulu. Namun keadaan berubah setelah sekitar tahun 1814 Masehi, Sir Thomas Stamford Rafless menemukan puing-puing batuan berusia tua dalam jumlah banyak di sekitar wilayah tersebut. Sir Thomas Stamford Rafles adalah Gubernur Jendral Inggris yang memimpin Indonesia pada masa peralihan penjajahan dari Belanda ke Inggris tahun 1811 M –1816 M. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menguak asal usul Candi Borobudur yang awalnya tertimbun tanah. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membongkar tanah di sekitar tempatnya menemukan batu-batuan tua itu. Dan benar saja, sebuah tumpukan batu-batu besar menjulang membentuk sebuah piramida raksasa. Rafless kemudian memerintahkan anak buahnya itu untuk meneruskan pekerjaannya, akan tetapi karena kesibukan perang pekerjaan ini akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1835 Masehi, Hartman, Gubernur Jendral Belanda melanjutkan proses pengangkatan Candi Borobudur yang ditinggalkan oleh Rafless selepas Inggris mengalami kekalahan perang dalam memperbutkan daerah jajahannya yaitu Indonesia. Hartman mengerahkan banyak pekerja untuk membongkar dan menghilangkan semua penghalan yang menutupi tumpukan batu-batu ini. Ia memang sangat tertarik pada candi yang ditemukannya tersebut dan mengusahakan pembersihan menyeluruh dari puing-pung yang mengotori candi ini. Pemugaran Candi Borobudur yang Pertama Kali Kendati sudah dibersihkan dari segala macam puing, tanah, dan kayu-kayu besar yang menutupinya. Candi Borobudur belumlah berbentuk secara sempurna. Banyak bagian yang gompel, hilang, dan rusak karena ditelan zaman. 





Menyadari hal ini, pada  tahun 1907-1911 Masehi, di bawah pimpinan Van Erf, Belanda mulai melakukan pemugaran terhadap candi yang memang terlihat belum sempurna. Pemugaran ini masih dilakukan dengan teknologi konvensional, sehingga reliefnya belum juga terbentuk seperti aslinya. Pemugaran Candi Borobudur ini hanya dilakukan sebatas untuk menghindari kerusakan-kerusakan lebih lanjut dengan memindahkan batuan-batuan yang rentan runtuh dari asal usul Candi Borobudur yang awalnya tak terurus. Kendati demikian, Erf sudah berjasa bagi Bangsa Indonesia karena ia telah menyelamatkan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia itu dari kerusakan yang lebih parah. Pemugaran Candi Borobudur Tahap Berikutnya Disibukan oleh kekacauan politik, militer, ekonomi sejak berlangsungnya perang dunia pertama, beberapa pemerintah yang sempat berkuasa di Indonesia mulai dari pemerintah Jajahan Belanda, Pemerintah Jajahan Jepang, dan Pemerintah Republik Indonesia menjadi tak lagi peduli dengan peninggalan sejarah yang memiliki nilai histori ini. Candi Borobudur dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, terbengkalai, dan tak dipedulikan. Seiring berjalannya waktu, saat kondisi negara mulai membaik, pada tanggal 10 Agustus 1973 pemugaran lanjut kemudian dilakukan di masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Bukti pemugaran ini berupa prasasti seberat 20 ton yang sengaja dibuat dan diletakan di sebelah Barat Laut Candi menghadap ke Timur. 




Uniknya, pemugaran Candi Borobudur yang berada di bawah pimpinan Dr. Soekmono ini dilakukan oleh sekitar 600 pekerja yang kebanyakan di antaranya merupakan tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan STM bangunan yang sebelumnya sudah diberikan pendidikan dan keterampilan khususnya tentang bidang Chemika Arkeologi (CA) dan Teknologi Arkeologi (TA). Mereka adalah asli putra dan putri bangsa Indonesia sendiri, tak ada satu pun di antaranya tenaga ahli dari luar negeri. Beberapa bagian yang dipugar dari Candi Borobudur pada masa itu antara lain Rapadhatu (tempat tingkat di bagian bawah yang berbentuk persegi), kaki candi, Teras 1, Teras 2, Teras 3, dan Stupa Induk. Dengan banyaknya bagian yang dipugar ini, waktu yang dibutuhkan untuk proses pengerjaannya adalah sekitar 10 tahun. Ya, pemugaran selesai dilakukan pada 23 Februari 1983. Candi Borobudur Saat Ini Candi Borobudur saat ini setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari 3,5 juta wisatawan baik lokal maupun mancanegara (Data Tahun 2013). Perihal asal usul Candi Borobudur, di salah satu bagian candi juga dijelaskan secara singkat. Anda bisa menikmati keindahan yang tersaji dari bangunan bersejarah tersebut, di mana gunung-gunung yang mengitari bangunan peninggalan Dinasti Syailendra ini tentu membuat pengalaman tersendiri. Tunggu apa lagi, segeralah beranjak untuk pergi ke Magelang, buktikan kebenaran asal usul Candi Borobudur yang Anda peroleh dari artikel ini. Salam.

SEJARAH CANDI BOROBUDUR

Candi borobudur adalah salah satu peninggalan sejarah agama buddha. Candi borobudur didirikan oleh penganut agama Buddha Mahayana yang diperkirakan berdiri tahun 800 masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Tetapi berdasarkan prasasti Kayumwungan 26 Mei 824, bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Raja Samaratungga pada abad ke-8 hingga ke-9. Proses pembangunannya sendiri menghabiskan waktu 75 tahun di bawah kepimpinan seorang arsitek yang bernama Gunadharma. Dalam pembangunannya Gunadharma sudah dapat menerapkan konsep interlock terhadap batu andesit yang mencapai 2.000.000 balok batu.




Candi Borobudur


Candi Borobudur merupakan candi atau kuil Buddha terbesar di dunia. Selain itu Candi Borobudur merupakan salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Monumen Candi Borobudur terdiri atas 6 teras yang berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar. Terdapat 2672 panel relief dan 504 arca Buddha yang menghiasi Candi Borobudur. Dengan banyaknya jumlah relief yang dapat ditemukan, Candi Borobudur dinobatkan sebagai candi yang memiliki relief Buddha terbanyak dan terlengkap di dunia. Relief yang terpahat di dinding merupakan susunan dari 4 kisah utama, yaitu : Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka-Awadana, dan Gandawyuda. Tetapi pahatan relief tersebut tak hanya menceritakan ajaran-ajaran sang Buddha dan perjalanan hidupnya melainkan menceritakan kemajuan masyarakat jawa pada masa itu. Selain 4 kisah utama yang terpahat di Candi Borobudur terdapat pahatan 10 kapal laut yang salah satunya merupakan kapal yang digunakan untuk mengarungi Pulau Jawa hingga Benua Afrika atau disebut dengan nama The Cinnamon Route. Hal ini pula yang menjadi salah satu bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah seorang pelaut.



candi borobudur

Mahkota Candi Borobudur, yaitu berupa Stupa Utama terbesar yang ada tengah area candi ini. Stupa utama ini dikelilingi oleh 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha yang tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan sikap tangan memutar roda dharma. Candi ini mengusung salah satu konsep yang ada pada ajaran agama Buddha yaitu Mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta. Karena konsep tersebut maka dalam pembangunannya di bagi menjadi tingkatan, yaitu dunia hasrat atau nafsu yang disebut dengan Kamadhatu, Dunia bentuk yang disebut Rupadhatu, dan dunia tanpa bentuk yang disebut Arupadhatu. Jika diperhatikan secara rinci candi ini tampak seperti menggambarkan seorang Buddha yang sedang duduk diatas kelopak bunga teratai



candi borobudur

candi borobudur

Candi Borobudur tak hanya meninggalkan sejarah tetapi candi ini mempunyai keindahan tersendiri yang dapat dinikmati bagi semua pengunjungnya. Ketika berada di puncak candi para pengunjung akan dibuat terkejut dengan keindahan alam yang disuguhkan. Beberapa keindahan alamnya yaitu, pemandangan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu serta perbukitan Menoreh. Semua keindahannya bahkan dapat dinikmati dalam semua posisi mata karena semua Gunung dan perbukitannya seoalah-olah mengitari candi ini sehingga terlihat bahwa candi ini merupakan pusat dari keindahan tersebut. Semua keindahan yang dinikmati tak lengkap rasanya jika tak menikmati indahnya Borobudur sunrise dan sunset. Beberapa pengunjung yang datang akan menghabiskan waktunya sejak terbit dan tenggelamya matahari di Candi Borobudur hanya untuk menunggu indahnya sunrise dan sunset.

MITOS DI CANDI BOROBUDUR

Nama : Sandi Maudita Damar P Nim : B.111.17.0171 Mitos Kunto Bimo di Candi Borobudur, Apa Itu? J awa Tengah, Indonesia  ...